Apa saya masih perawan?

Apa saya masih perawan?

Ini pertanyaan dari salah seorang mantan mahasiswa saya, yang sekali lagi saya tidak tahu namanya.

Dok, saya seorang wanita, usia 24 thn, belum menikah. Saya sering memasukkan jari ke dalam vagina untuk melampiaskan nafsu, sampai mengeluarkan cairan. Hal ini sudah saya lakukan lama sekali. Yang jadi pertanyaan saya adalah:

  1. Apakah selaput dara saya sudah robek, dan apakah saya masih perawan?
  2. Apakah kebiasaan ini akan mengganggu kehamilan?

Sebelum saya menjawab, mungkin ada baiknya kita bahas sedikit, apa itu selaput dara, atau dalam bahasa kedokterannya hymen. Selaput dara adalah selaput yang mengelilingi atau menutupi sebagian lubang vagina luar, dan merupakan bagian dari vulva, atau alat kelamin wanita bagian luar. Pada umumnya selaput dara bukanlah selaput utuh, tapi memiliki lubang dengan jumlah dan ukuran bervariasi. Sedangkan ukuran lubang yang dikelilingi selaput dara, akan membesar ukurannya, mengikuti peningkatan usia wanita.

 

Ilustrasi Hymen

ilustrasi
Jenis selaput dara berdasarkan bentuknya. Dari kiri ke kanan : Annular, Septate, Cibriform, Introitus.
Sumber: Kompas.com, 16 Juli 2008

Dalam budaya masyarakat kita,  selaput dara dianggap sebagai penanda keperawanan atau virginitas seorang wanita. Padahal dengan bervariasinya bentuk selaput dara, sangatlah sulit untuk memastikan seorang gadis atau wanita perawan atau tidak perawan, hanya dengan memeriksa selaput daranya. Selaput dara dapat robek yang disebabkan berbagai macam hal, mulai dari aktivitas fisik, tampon, atau dari hubungan seksual.

Jadi kalo ditanya, “Dok, apa saya masih perawan atau tidak?”, maka yang akan saya lakukan adalah akan memeriksa adalah memeriksa selaput daranya dan akan menuliskan sebagai utuh atau tidak selaput daranya. Tapi keperawanan yang sesungguhnya, yang tahu hanya dia sendiri.

Dan kebiasaan memasukkan jari ke dalam vagina dan cukup dalam, bisa saja merusak selaput dara. Tapi jika tangan masuk tidak terlalu dalam atau selaput daranya cukup elastis, bisa jadi selaput dara masih terlihat utuh.

Kemudian, keluar atau tidaknya darah setelah aktivitas seksual, sering dijadikan patokan robek atau tidaknya selaput dara. Padahal keluar atau tidaknya darah sangat tergantung vaskularisasi (peredaran darah) di selaput dara itu. Kalo cukup banyak, maka akan berdarah cukup banyak dan mudah tampak setelah aktivitas sexual. Tapi bila vaskularisasinya sedikit, mungkin saja akan berdarah minimal, dan akan hilang selama aktivitas sexual. Jadi akan nampak tidak ada darah.

Jadi jawaban untuk pertanyaan pertama, cukup jelas. Bahwa mungkin saja sudah robek, karena aktivitasnya cukup lama, yang biasanaya makin hari, seseorang yang sudah terbiasa melakukannya, cenderung akan melakukannya makin dalam, yang dikarenakan faktor keingintahuan.

Untuk pertanyaan kedua, “Apakah hal ini akan mengganggu kehamilan?”, bisa dibilang tidak, bila dilakukan dengan tangan yang bersih.

Ada penyakit yang kita sebut Pelvic inflammatory disease (PID) atau penyakit radang panggul, yang diakibatkan oleh infeksi di daerah panggul. Penyakit ini termasuk pada penyakit akibat hubungan seksual, walaupun bisa saja wanita mendapatkan penyakit ini, bukan dikarenakan hubungan seksual.

Jadi kalo tangan yang dimasukkan ke dalam vagina kotor, dan masuk cukup dalam, bukan tidak mungkin akan terjadi PID, yang akan berakibat kemandulan/infertilitas.

Semoga bermanfaat

Referensi:

  1. Kompas.com 16 Juli 2008
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Hymen
  3. http://en.wikipedia.org/wiki/Pelvic_inflammatory_disease

 

POLA ASUH HIDUP SEHAT BAGI ANAK

Pola asuh merupakan pola interaksi antara orang tua dan anak. Termasuk didalamnya, cara menerapkan aturan, mengajarkan nilai/norma, memberikan perhatian dan kasih sayang, serta menjadi contoh bagi anaknya. Atau perilaku yang dipraktekkan pengasuh dalam memberikan makanan, pemeliharaan kesehatan, memberikan stimulasi, dukungan emosional dan kasih sayang yang dibutuhkan untuk tumbuh kembang anak. Sedangkan pola hidup sehat, adalah perilaku atau kebiasaan hidup yang menunjang kehidupan seseorang untuk lebih sehat.

Dan telah diketahui bahwa perkembangan otak manusia terpesat ada di masa balita. Sehingga pada masa inilah, diyakini sebagai masa emas tumbuh-kembang anak. Artinya, masa balita sangat menentukan baik tidaknya tumbuh kembang anak selanjutnya. Bukan cuma jasmani, melainkan juga jiwa, dan kehidupan sosialnya.

Di tengah masyarakat kita pada umumnya, sudah menjadi kebiasaan anak lebih dekat pada ibunya. Karena ibunyalah yang lebih banyak di rumah dan lebih banyak berinteraksi dengan anak daripada bapaknya. Sehingga kecerdasan ibu dalam membesarkan anak, menjadi bagian penting dari jaminan bakal normalnya tumbuh-kembang seorang anak.

 

Pola Asuh Hidup Sehat

Mengubah pola hidup yang telanjur tidak sehat jauh lebih pelik ketimbang membentuknya. Sehingga sangat penting pembentukan pola hidup sehat sejak dini. Jika anak luput memperolehnya, maka pola hidup tak sehatnya bisa menggagalkan pembentukan hari depan sosok sehatnya.

Nadra B Ballcok & Lester Breslow menyatakan bahwa formula membangun hidup sehat, seperti:

– kebersihan diri;

– cukup tidur;

– makan tiga kali;

– wajib sarapan;

– berat badan ideal;

– bergerak badan;

– dan jauhi rokok, alkohol, narkoba,

hendaknya sudah ditanamkan sejak bayi.

Bayi yang dibiasakan bersih, akan merasa risih jika bagian badannya terpapar kotoran. Termasuk kebiasaan mencuci tangan setiap kali kotor dan sebelum makan. Dan perlu diingat, bahwa membangun jiwa anak sama pentingnya dengan memberinya kecukupan gizi. Salah asuh, salah asah, salah asih bisa membangun jiwa yang kerdil, tak tahan banting, dan perilaku menyimpang.

Hal lain yang perlu ditanamkan pada anak oleh orang tua, adalah agar anak selalu :

– Menjunjung tinggi kebenaran;

– Kesediaan bertanggung jawab;

– Menunda kepuasan (hidup);

– Serta hidup seimbang dunia-akhirat.

Balita itu ibarat selembar kertas yang masih kosong. Orangtuanya lah, yang menulis lembaran kertas kosong itu segala sesuatu yang baik, benar, dan adil.

 

Pola Asuh Yang Efektif

Landasan utama terjadinya pola asih yang efektif, adalah cinta dan kasih sayang. Hal-hal yang bisa dilakukan orang tua untuk menuju pola asuh yang efektif:

Pola asuh harus dinamis, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan anak. Maksudnya adalah, untuk menanamkan pola hidup sehat, tergantung pada umur, minat dan bakat anak. Sentuhan- sentuhan fisik seperti merangkul, mencium pipi, mendekap dengan kasih sayang , akan membuat pribadinya tenang dan berkembang matang. Dengan begitu, pola hidup sehat yang kita tanamkan, akan lebih mudah menyerap dan tertanam di hati anak.

Perilaku positif dari orang tua. Anak-anak mudah sekali untuk meniru. Bahkan orang yang sudah berumur pun, lebih mudah meniru, dibandingkan dengan mengikuti sebuah kata-kata nasehat. Oleh karenanya, sebelum anaknya bisa hidup sehat, orang tuanya harus mencontohkan bagaimana bentuk pola hidup sehat itu. Bukan hanya dengan kata-kata, tapi dengan perbuatan.

Komunikasi efektif. Waktu luang untuk berbincang-bincang dengan anak merupakan syarat untuk dapat berkomunikasi efektif. Hargailah pendapat anak dan jadilah pendengar yang baik. Anda tahu, bahwa usia belia bukan berarti membuat seorang anak tidak tahu apa-apa.

Disiplin. Mulailah penerapan disipilin dari hal-hal kecil dan sederhana. Tapi perlu diingat, bahwa penerapan disiplin ini juga harus melihat kondisi anak.

Konsisten. Aturan yang telah dibuat, tidak dilanggar sendiri. Hal ini akan mempuat si anak bingung.

Ayah ibu, kompak. Kedua orang tua harus kompak, dan berkompromi dulu sebelum menentukan aturan, sehingga anak tidak bingung, karena orang tua mereka saling bersebrangan.

 

 

Penutup

Menerapkan pola hidup sehat pada anak, bukan hal mudah. Walau begitu, orang tua punya kewajiban untuk mendidik anak-anak mereka, agar bisa menerapkan pola hidup sehat, demi optimalnya tumbuh kembang anak. Pola hidup bersih itu dididik, bukan hanya diajarkan. Mendidik berarti orang tua harus dapat menjadi panutan yang benar dan konsisten. Semoga bermanfaat.

Beda Influenza dan Common Cold

Tahukah anda?

Bahwa penyakit dengan gejala bersin-bersin, hidung berair, hidung tersumbat, sakit tenggorok, batuk, sakit kepala, dan lelah, yang sering kita sebut dengan flu, sebenarnya bukan flu? Tapi, common cold.

Karena kata flu, berasal dari kata influenza, yang penyebabnya virus influenza, dengan gejala lebih berat dari common cold, dan memerlukan penanganan yang lebih serius. Gejalanya demam tinggi, seluruh badan sakit-sakit, dan sakit kepala hebat. Kadang muncul bersin, sakit tenggorok, dan hidung tersumbat. Batuk sering terjadi makin berat, dan tidak nyaman di dada.

Common cold sering disebabkan oleh rhinovirus dan coronavirus. Pencegahannya pun mudah. Cukup dengan sering cuci tangan, kita akan jarang terinfeksi kuman common cold. Common cold, biasanya akan sembuh sendiri. Orang dewasa normal akan terserang commond cold 4 – 6 kali pertahun, sedangkan pada anak-anak bisa mencapai 12 kali pertahun. Bisa lebih kalau kita berulang tertular dari saudara atau tetangga yang terkena common cold.

Sedangkan influenza, penyebabnya adalah virus influenza yang hasil mutasinya diantaranya menghasilkan strain H5N1 yang menyebabkan flu burung. Influenza berat, dapat menyebabkan kematian. Pencegahannya dengan imunisasi. Dan diperlukan antiviral untuk pengobatannya.

Jadi, ada baiknya anda bisa membedakan, mana common cold, dan mana influenza (flu). Semoga bermanfaat.

Dokter kita semua